Seminar Nasional kesehatan reproduksi tersebut mengundang Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Hj.Huzaemah T. Yanggo dan pakar seksolog Indonesia, dr. Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS.
Jakarta [UNAS] – Masalah terkait sunat perempuan sejak lama ini masih menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat Indonesia. Lantas, bagaimanakah sebenarnya sunat pada perempuan dilihat dari sudut pandang kesehatan dan agama? Menjawab hal tersebut, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Nasional menggelar seminar nasional kesehatan reproduksi dengan mengundang Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Hj.Huzaemah T. Yanggo dan pakar seksolog Indonesia, dr. Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS.

“Khitan pada wanita saat ini masih jadi pembicaraan yang hangat di kalangan masyarakat. Dalam ilmu keperawatan sendiri, ada ilmu terkait maternity dimana kami sebagai perawat membantu saat proses kelahiran, dan pada saat itu terjadi ada beberapa pasien yang meminta bayi perempuannya untuk dikhitan, sementara perawat dan pihak rumah sakit sendiri mempunyai pendapat berbeda. Jadi, ini yang ingin kami ketahui bagaimana pandangan dari sisi medis, dan sisi agama sehingga perawat dan bidan tidak lagi salah paham dan beda pendapat,” jelas Ketua Pelaksana kegiatan, Nevi Dian Nur Anggraeni saat ditemui di ruang Unit Pelaksana Teknis (UPT) Marketing & Public Relations Universitas Nasional, Blok I Lantai 3, Selasa (24/6).

Dalam seminar nasional yang digelar di Aula Utama Universitas Nasional pada Minggu (22/6) dab didihadiri oleh ratusan peserta baik dari mahasiswa ilmu keperawatan dan kebidanan tersebut mengundang Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Hj.Huzaemah T. Yanggo sebagai pembicara untuk meninjau bagaimana khitan perempuan dilihat dari segi agama modern, dan pakar seksolog Indonesia, dr. Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS untuk meninjau khitan perempuan dari sisi kesehatan reproduksi.

Selama kegiatan berlangsung, Prof. Huzaemah memaparkan bahwa khitan pada perempuan dalam pandangan islam hukumnya adalah sunnah. Selain dari kebersihan, dengan melakukan khitan pada bayi perempuan itu juga dapat mengendalikan orgasme berlebihan pada wanita. Senada dengan Prof. Huzaemah, pakar seksolog Indonesia, dr. Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS juga berpendapat bahwa khitan pada perempuan memang memiliki dampak positif, seperti menjaga kebersihan dan terkait juga dengan kebutuhan biologis wanita tersebut. Namun demikian, mengkhitan perempuan tersebut tidak boleh dilakukan secara berlebihan, hanya dengan memasukkan jarum steril ke selaput colum yang menutupi klitoris dan mengangkat sedikit kulit colum tersebut.

Tidak hanya terbatas pada pembahasan terkait khitan pada perempuan saja, dr. Boyke juga memberikan nasehat dan pesan untuk menjauhi seks bebas, khususnya bagi kaum perempuan melalui lirik – lirik lagu yang dinyanyikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *